Senin, 04 Mei 2015

Pelantun Malam

­Jingga di pelupuk matamu hampir surut
Tanganmu merogoh secarik kertas dari saku tuksedo
Kertas putih berisi bayang garis berlipat
Tertulis secarik puisi karya diri

Jumat, 01 Mei 2015

Sepiring Mimpi Denganmu

Pagi ini aku terbangun dengan sejuta rasa malas yang pada akhirnya membuatku hanya berbaring di tempat tidur seharian. WiFi baru yang terpasang memang selalu menggoda untuk betah di kamar kost, apalagi Ujian Akhir Semester sudah berakhir kemarin. Apa daya, jika aku hanya sanggup menunggu jadwal pulang liburan ke Bali minggu depan.

Akhir-akhir ini aku sedang gemar menonton serial drama Korea yang berisi shoot makanan-makanan lezat khas negara tersebut. Ya, Let's Eat! Drama ini pertama kali ku lihat di laptop salah satu temanku ketika puasa. Rasanya nikmat sekali menikmati shoot makanan yang selalu di zoom-in dan kelezatan si pemain saat mengunyah makanan tersebut. Aaah.. ku harap puasaku saat itu tidak batal karena menonton 30 detik bagian film tersebut. Perlu waktu 2 hari untuk menonton 16 episode drama Let's Eat. Dan ini kali pertamanya aku excited menonton drama Korea, sebelumnya mungkin bisa dibilang antikoreakoreaan. Sorry, habisnya Let's Eat yummy banget, sampai bikin lapar tengah malam. Hiks..

Sabtu, 07 Februari 2015

Sayap Rindu

Sore ini aku tertunduk
Setumpuk rindu tak bertepi menghadangku
Bak terikat lini nostalgia
Mengendap, rapuh dibuatnya

Selasa, 03 Februari 2015

Ketidakpastian

Ketika bintang mulai ternyenyak
Ketika aku tak mampu mengais embun pagi demi kisahku
Disinilah tepat aku menghadap
Memandang cermin diri di pelupuk senja

Senin, 29 Desember 2014

Galungan

Hari kedua di Bali..
Rabu, 17 Desember 2014, yang bertepatan dengan hari raya Galungan yang diperingati oleh umat Hindu di Bali. Semangat liburanku masih membara, karena pada hari itu aku akan berkunjung ke rumah nenek di Karangasem. Seperti yang pernah aku ceritakan, aku merupakan blasteran Jawa dan Bali. Dulu sebelum ibuku menikah, beliau beragama Hindu. Kemudian saat mengikat janji suci dengan ayahku ibuku memutuskan untuk menjadi seorang mualaf. Alhamdulillah. Aku selalu bersyukur lahir dari keluargaku saat ini. Karena meskipun keluarga besarku memiliki perbedaan keyakinan, sampai saat ini kerukunan di antara kami masih tetap terjaga. Kami belajar menghargai perbedaan dan saling mengerti satu sama lain. Meskipun ibuku sudah tidak beragama Hindu lagi, tapi setiap ada acara keluarga dan hari raya seperti Galungan, kami akan berlibur ke rumah nenek. Dan nenek selalu meminta kami untuk datang ke rumah jika sedang libur sekolah.

Rabu, 24 Desember 2014

Arrival



Liburan semester ganjil sudah datang. Semua mahasiswa mungkin gembira menyambut datangnya liburan, begitu pula denganku. Liburan kali ini masih sama dengan liburan semester sebelumnya. Pulang kampung, pulang ke tempat paling nyaman selama ini, rumah orang tua di Bali. Siapa yang tidak kenal dengan Bali?! Ya, aku sangat beruntung tinggal di pulau Bali. Alamnya indah, damai tanpa polusi, ada sawah di kanan dan kiri rumahku, tempat bermain yang luas, dan pemandangan yang masih asri. Itu dulu, masa saat aku kecil dan investor belum berbondong-bondong pergi ke Bali. Kini, bisa dilihat sendiri perubahan drastis yang dialami Bali. Bukan itu intinya, liburan kali ini bermula dari..

Kamis, 06 November 2014

Pelabuhan Kosong

Aku tak tahu harus memulai cerita ini dari mana. Kadang aku merasa cerita ini terlalu bodoh jika ku simpan sendiri. Seseorang berkata “keluarlah dari kotak nyamanmu mulai dari sekarang”. Sejak saat itu aku mulai memandang sesuatu dengan berbeda. “Kotak nyaman” kita yang berdiri dalam aman, tanpa tantangan, kadang tak sanggup melawan karena takut kehilangan, dan hanya mampu berdiam diri.
Hari dimana pertama kali kita bertemu dalam masa baru, aku duduk berseberangan denganmu. Entah siapa yang memulai, senyuman kami terlontar begitu saja. Senyuman yang selalu ku lihat sama dari masa sebelumnya. Namun aku tak pernah bisa menebak apa maknanya. Aku hanya merasa lebih bersemangat ketika senyumanmu hadir. Sampai aku sadar bahwa sesuatu yang berbeda aku rasakan saat berada di dekatmu, aku hidup, aku mampu tertawa, semangatku bangkit kembali, aku bahagia melihat senyumanmu. Terlalu cepat untuk menyimpulkan aku menyukaimu atau aku mencintaimu. Tapi semua itu menguatkanku.

Aku tak perlu mendramatisir, terkadang hatiku lirih mendengar kenyataanmu. Aku berusaha tegar dan tak terlihat memperdulikanmu, tapi lain di hatiku. Kami dekat, tapi tak ada kata yang berarti bagi kami atau bagiku. Terlalu berharap. Apa aku terlalu berharap? Aku pernah mencoba melupakanmu, ketika berhasil, senyuman itu kembali mendekat. Apa Tuhan sedang mengujiku, seberapa kuat aku bertahan.

Aku sudah lama menunggu, memendam dan tersimpan rapi. Sampai kapan akan terungkap. Dan tak tahu kemana arusnya. Hanya mampu mengapung di tengah ombak sambil menunggu pelabuhan itu kosong. Entahlah..