Bersyukur
aku bertemu niat baikmu, mengunjungi keluargaku. Dan sebuah izin yang sangat
kami harapkan. Aku sesaat lenyap oleh petuah-petuah orang tuaku. Untuk kali
pertama kami berbicara tanpa mode “gesrek”. Bukan main-main, ini serius! Bahkan
leluconku tak lagi sanggup memecah, hambar, ini serius!
Kita duduk di pinggir jalan. Memesan segelas teh tarik, kopi, dan jajanan khas angkringan. Ditemani rintik hujan yang kian menyepi. Kita hanya duduk, berdiskusi, lalu tertawa. Sama seperti dulu, seolah hangat mendekap. Lalu ada kesempatan kami menahan grogi, gugup yang tak mau pergi. Mendingin, semuanya seolah beku. Waktu, aku dan juga kamu. Seolah hanya ada dua makhluk dengan perasaan yang sama.
Sudah lama rasanya sejak post terakhir jalan-jalan di Malang. Berhubung tahun ini adalah tahun terakhir (insyaallah) sebagai mahasiswa di Malang, boleh dong yang namanya jalan-jalan lagi. Tiga tahun di Malang, masih belum sering pernah yang namanya ke tempat wisata di daerah sini seperti wahana rekreasi Jatim Park, Museum Angkut, BNS, dan kawan-kawannya. Kata ibu, jalan-jalannya kalau sudah lulus. Oke, aku turuti Bu. *langsung bayangin ibu ikutan naik wahana di JP wkwkwk*
Malam itu aku berlari kecil, terburu-buru menghampirimu yang sudah menunggu di depan pintu. Tempat yang belum pernah kami kunjungi. Kami duduk berhadapan, memesan dua cangkir coklat panas dan sepiring pisang keju. Satunya chocoriginal, satu lagi chocomilk. Hangat sekali, seperti pertemuan kita di malam itu. Juga begitu manis bak pisang keju yang kita pesan. Ditemani siulan angin malam, tawa kita, juga petuah-petuah yang selalu aku rindukan. Entah kami sebut apa pertemuan ini. Dari aku, terima kasih untuk sebuah pertemuan yang hangat dan begitu manis ini.
Hawa
panas menyambut kedatangan saya di Bali, setelah menempuh 16 jam perjalanan
darat dari kota Malang menuju Denpasar. Liburan kali ini bertepatan dengan
libur akhir tahun, sehingga kemacetan panjang terjadi di kawasan pelabuhan
Ketapang dan Gilimanuk. Tujuan saya pulang ke Bali kali ini selain untuk
melepas rindu bersama keluarga juga untuk mengeksplor beberapa pantai di
kawasan Selatan Bali.
Aku hanya bertahan pada dua carik kertas putih bertuliskan Diary mengenaimu. Jumlah yang sedikit untuk menulis memori tentangmu. Abaikan saja seribu puisi yang ku tulis untukmu sejak awal. Sajak yang tak dapat ku pendam lebih lama lagi. Sudah lebih dari cukup untuk mendeskripsikan dirimu, tanpa harus kamu tahu...